RUMAH PEKERJA MIGAS INDONESIA

SPP.PWK Dan BEM Unsoed Mengadakan Seminar Nasional Kedaulatan Energi
Written by pertaminaexpo.com   
Sunday, 10 November 2013

ImagePurwokerto – Serikat Pekerja Pertamina Patra Wijaya Kusuma (SPP.PWK) dari PT Pertamina RU IV Cilacap dan Badan Eksekutif Mahasiwa Universitas Jendral Soedirman (Unsoed) mengadakan Seminar Nasional yang bertemakan “Perjuangan Mengembalikan Kedaulatan Energi Nasional Wujudkan Kesejahteraan Indonesia” (9/11) yang bertempat di Aula Fakultas Hukum Universitas Jenderal Soedirman.

Seminar Nasional ini diikuti oleh 600-an Mahasiswa serta Aktivis BEM seluruh Universitas se- Jawa Tengah-DIY. Adapun pembicara dalam seminar ini adalah Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Migas Indonesia (KSPMI) Faisal Yusra, Pengamat Energi Nasional Dr. Kurtubi dan Direktur Eksekutif IRESS (Indonesian Resources Studies) Marwan Batubara.

Topik bahasan pada seminar tersebut antara lain mengenai penguasaan sektor migas oleh asing yang cukup besar, sehingga dapat mengancam ketahanan serta kedaulatan energi nasional. Selain itu lemahnya undang – undang serta kecenderungan tunduknya pemegang kekuasaan negeri ini terhadap kekuasaan asing semakin membuat terpuruk kondisi perminyakan tanah air.

ImageSalah satu upaya dalam mengembalikan kedaulatan energi nasional adalah melalui kasus blok mahakam yang akan berakhir kontrak dengan PT Total asal perancis pada 2017.  Blok Mahakam adalah salah satu ladang gas alam terbesar di Indonesia, yang rata-rata produksinya mencapai sekitar 2.200 juta kaki kubik per hari (MMSCFD). “Ini harus dikelola oleh Indonesia dan tak boleh lagi diserahkan ke tangan asing” ujar Marwan Batubara. Katanya hal ini sesuai dengan UU Migas Nomor 22 Tahun 2001, yakni apabila kontrak minyak dan gas alam berakhir, pengelolaannya diserahkan kepada BUMN. Apalagi hal ini sesuai amanat konstitusi dan kepentingan strategis nasional serta kedaulatan energi rakyat Indonesia.

Untuk diketahui, Blok Mahakam di Kalimantan Timur memiliki cadangan sekitar 27 triliun kaki kubik (tcf). Sejak 1970 hingga 2011, sekitar 50 perseb (13,5 tcf) cadangan telah dieksploitasi.Hasilnya dalam bentuk pendapatan kotor sekitar 100 miliar dollar AS. Cadangan yang tersisa saat ini sekitar 12,5 tcf. Dengan harga gas yang terus naik, Blok Mahakam berpotensi mempunyai pendapatan kotor senilai 187 miliar dollar AS atau 12,5 x 1012 x 1000 BTU x 15/106 BTU) atau sekitar Rp 1.700 triliun.

Pada seminar tersebut seluruh pembicara, aktivis dan Badan Eksekutif Mahasiswa se-Jawa Tengah dan DIY   menandatangani petisi yang berisi dukungan dan tuntutan kepada Pemerintah untuk mengembalikan blok Mahakam ke tangan Indonesia. Hal ini sebagai pernyataan bahwa sebagai putra-putri bangsa indonesia akan berjuang untuk mengembalikan kedaulatan energi nasional termasuk merebut kembali Blok Mahakam.